When War Breaks Out and Men Are Busy Putting on Makeup

 


Ketika Perang Meletus dan Para Laki-Laki Sibuk Berdandan


The year 2025 has become a new witness to a restless world. On February 19th, 2025, armed conflict erupted on the border between India and Pakistan.

Tahun 2025 menjadi saksi baru bagi dunia yang sedang resah. Pada 19 Februari 2025, bentrokan bersenjata meletus di perbatasan India dan Pakistan.


The world held its breath.

Dunia menahan napas.


Not long after, tensions escalated in Southeast Asia—between Thailand and Cambodia. Tensions began in early May 2025 and broke into open attacks on July 24th, when both air and ground strikes were reported along the border.

Lalu, tidak lama berselang, ketegangan memanas di Asia Tenggara, antara Thailand dan Kamboja. Ketegangan dimulai awal Mei 2025, dan kemudian pecah menjadi serangan terbuka pada 24 Juli, ketika serangan udara dan darat dilaporkan di sepanjang perbatasan.


But behind the chaos, one irony cannot be ignored: Thailand—long known as a haven for transgender people and ladyboys—is now a battlefield.

Namun, di balik kekacauan itu, ada satu ironi yang tak bisa diabaikan: Thailand, yang dikenal sebagai surganya kaum transgender dan waria, kini menjadi medan perang.


For years, Thailand has been the place where men can easily transform their bodies into "women"—through plastic surgery and hormones. It’s also been a popular destination for LGBT individuals seeking “beauty”—complete with long eyelashes, glowing skin, and a high-pitched voice.

Negara ini sejak lama dikenal sebagai tempat di mana laki-laki bisa dengan mudah mengubah tubuhnya menjadi “perempuan”, baik lewat operasi plastik maupun hormon. Thailand juga menjadi destinasi populer bagi kaum LGBT yang ingin “menjadi cantik”—lengkap dengan bulu mata lentik, kulit putih bersinar, dan suara cempreng yang dibuat-buat.


In major cities like Bangkok and Pattaya, it’s often hard to tell who’s a biological woman and who’s a man in transformation. The world calls this freedom of expression. But in the shadow of armed conflict, one bitter question arises: where are the real men who should be protecting the nation?

Di kota-kota besar seperti Bangkok dan Pattaya, kita seringkali tak bisa membedakan mana perempuan asli dan mana laki-laki yang sudah bertransformasi. Dunia menyebut ini kebebasan berekspresi. Tapi dalam bayang-bayang konflik bersenjata, muncul pertanyaan getir: di mana para lelaki sejati yang seharusnya melindungi dan menjaga bangsa?


Are they now busy matching foundation shades and keeping their false lashes curled while fleeing?

Apakah mereka kini sedang sibuk mencocokkan shade foundation dan bulu mata palsu mereka agar tetap lentik saat melarikan diri?

---

Tops and Bottoms in the Midst of War


Top dan Boti di Tengah Perang


Imagine this:

Bayangkan ini:


Explosions shake the city. Smoke rises high. Children scream, elderly women stagger carrying their grandchildren, and homes crumble one by one.

Ledakan mengguncang kota. Asap membumbung tinggi. Anak-anak menjerit, wanita-wanita tua terhuyung membawa cucunya, dan rumah-rumah ambruk satu demi satu.


But in the midst of that chaos, a man—with perfectly blown hair and pink lipstick—screams in panic:

Namun di tengah kekacauan itu, ada sosok laki-laki—dengan rambut ter-blow rapi dan bibir bergincu merah muda—berteriak panik:


“Top! Protect me! My hair is messy!”

"Top! Lindungi aku! Rambutku kusut!"


And the top, with a macho pose and puffed chest, embraces his bottom and swears to protect him “till the end of time.” A romantic scene, indeed.

Dan sang top, dengan gaya macho dan dada dibusungkan, segera memeluk boti-nya, bersumpah akan melindungi dia “sampai akhir zaman”. Sungguh adegan romantis.


But...

Tapi...


Where are they when mothers faint from lack of oxygen?

Di mana mereka saat ibu-ibu pingsan kehabisan oksigen?


Who pulls the children to safety?

Siapa yang menarik tangan anak-anak ke tempat aman?


Who guards the homes from being looted?

Siapa yang menjaga rumah-rumah agar tak dijarah?


Those who should be shields are now flowers.

Mereka yang seharusnya menjadi tameng, malah sibuk menjadi bunga.


Those born with strength now choose to be weak and pampered.

Mereka yang diciptakan dengan kekuatan fisik untuk menjaga, kini memilih jadi sosok lemah yang ingin dimanja.


They run from the duty of manhood—to become “new women” who only want to be understood.

Mereka lari dari tanggung jawab sebagai laki-laki—demi menjadi “perempuan baru” yang hanya ingin dimengerti.


The world burns, but some men are more concerned with getting attention.

Dunia sedang terbakar, tapi sebagian laki-laki lebih sibuk mencari perhatian.

---

When Gender Becomes an Escape, Who Will Still Stand as the Protector?


Ketika Gender Jadi Pelarian, Siapa yang Masih Mau Jadi Pelindung?


Today, "gender" can be changed as easily as updating a social media status. But one thing remains: in times of crisis, the world still needs real men—not perfect, but willing to stand guard.

Hari ini, “gender” bisa diubah semudah mengganti status media sosial. Tapi satu hal yang tak berubah: di saat krisis, dunia tetap butuh laki-laki sejati—bukan yang sempurna, tapi yang setia menjaga.


Those who stand at the front, not hide behind skirts and makeup.

Yang berdiri di depan, bukan bersembunyi di balik rok dan make up.


Those who hold the hands of women and children to save them—not hold mirrors.

Yang menggenggam tangan wanita dan anak-anak untuk diselamatkan, bukan sibuk memegang cermin.


Sadly, in this era...

Miris, di zaman ini…


The strong choose to be weak.

Yang kuat memilih menjadi lemah.


Those meant to protect, now seek protection.

Yang seharusnya melindungi malah minta dilindungi.


And those once masculine, now choose to be pampered—all in the name of “finding themselves.”

Dan yang dulunya maskulin, kini memilih jadi manja demi "menemukan jati diri".


If one day war comes to our doorstep, and men no longer want to be protectors—

Jika suatu hari perang datang ke depan rumah kita, dan para lelaki sudah tidak ingin menjadi pelindung,


Who will be left to keep this world standing?

siapa yang akan tersisa untuk menjaga dunia ini tetap berdiri?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi yang Hidup dan Teriakan Kesakitannya: Sebuah Panggilan untuk Kesadaran

Titik Wening: A Foundational Javanese Spiritual Tool for Harmony, Self-Development, and Life Transformation

Identitas, Peringatan Alam, dan Krisis Peran Laki-laki: Sebuah Renungan Jawa