Happiness Harvested from Tears

 

Kebahagiaan yang Dipetik dari Air Mata

---

The universe is not a passive empty space.

Semesta bukan ruang kosong yang pasif.


It is the breath of justice that cannot be deceived.

Ia adalah tarikan napas dari keadilan yang tidak bisa ditipu.


It is not a judge that speaks—

but a patient force of balance.

Ia bukan hakim yang bersuara—

tetapi penyeimbang yang sabar.


Energy sent out will return,

not in the same shape,

but in equal weight.

Energi yang diputar keluar akan kembali,

bukan dalam bentuk yang sama,

tetapi dalam ukuran yang setara.


Whatever you create

will find its way back to you.

Apa pun yang kau ciptakan,

akan menemukan jalan pulangnya.

---

Happiness plucked from someone else's tears

will not remain long in your hands.

Kebahagiaan yang kau petik dari air mata orang lain

tidak akan tinggal lama dalam genggamanmu.


It will transform—into a cold emptiness.

Ia akan berubah—menjadi kehampaan yang dingin.


Into a hollow space inside your chest

that no laughter, wealth, or sweet affirmation can fill.

Menjadi ruang hampa di dalam dada

yang tak bisa kau isi dengan tawa, harta, atau afirmasi palsu.

---

Silenced cries will return as storms.

Tangis yang dibungkam, akan menjadi badai.


And forced laughter will echo as hollowness amidst the ruins.

Dan tawa yang dipaksakan, akan menjadi gema hampa dalam reruntuhan.

---

Do you truly believe

that joy can be built

on the suffering of others?

Apakah kalian sungguh percaya

bahwa kebahagiaan bisa dibangun

di atas penderitaan orang lain?


Can you really laugh

while the world burns—

when homes collapse,

when children scream,

when the soil is soaked in blood and yields nothing?

Apakah kalian benar-benar bisa tertawa

di tengah dunia yang terbakar perang—

ketika rumah runtuh,

ketika anak-anak menangis,

ketika tanah tak lagi bisa ditanami karena dilumuri darah?


If you can... are you still human?

Jika kalian bisa... apakah kalian masih manusia?

---

Know this:

Ketahuilah:


True happiness is not freedom from responsibility.

It is not an escape from pain.

Kebahagiaan sejati bukanlah pelepasan dari tanggung jawab.

Ia bukan pelarian dari luka.


It is not the comfort of muting another's sorrow

under the excuse: “it's not my concern.”

Ia bukan keasyikan membungkam suara yang menderita

dengan dalih: “itu bukan urusanku.”


True happiness is the capacity to love,

even when the world is unjust.

Kebahagiaan sejati adalah kemampuan untuk mencintai,

bahkan ketika dunia tidak adil.


It is the courage to heal wounds,

not to run from them.

Ia adalah keberanian untuk menyembuhkan luka,

bukan melarikan diri darinya.

---

Because the universe keeps track of your footsteps.

And it will demand its return—

in a form you will never expect.

Karena semesta menyimpan jejak langkahmu.

Dan ia akan menuntut balasnya—

dengan cara yang tidak akan pernah kalian duga.

> "What you steal from others today

will become poison in your soul tomorrow."

"Apa yang kau hisap dari orang lain hari ini,

akan menjadi racun dalam jiwamu esok hari."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi yang Hidup dan Teriakan Kesakitannya: Sebuah Panggilan untuk Kesadaran

Titik Wening: A Foundational Javanese Spiritual Tool for Harmony, Self-Development, and Life Transformation

Identitas, Peringatan Alam, dan Krisis Peran Laki-laki: Sebuah Renungan Jawa