Musim dingin yang tidak pernah pulang

 


❄️ Musim Dingin yang Tidak Pernah Pulang ❄️


Ada musim yang tidak pernah dijanjikan bunga,

hanya abu, langit kelam, dan desir angin beracun

yang membawa serpih-serpih cinta yang dulu,

kini membeku di antara reruntuhan harapan.


Mereka bilang ini hanya badai cuaca,

tapi yang runtuh bukan hanya kota—

yang mati adalah pelukan,

yang dingin adalah dada manusia

yang pernah mengenal empati

lalu menyalakannya menjadi bom.


Ini bukan musim salju,

ini musim dingin nuklir,

di mana matahari pun enggan menyapa,

dan langit lebih suka bicara dalam nada sisa ledakan.


Kau tahu siapa yang menyalakan sumbu?

Makhluk itu...

Berjenis laki-laki.

Lelaki yang kepalanya kosong,

hatinya pun lebih dingin dari timah nuklir.

Laki-laki yang menjanjikan cinta lalu menjualnya

demi selembar uang, demi gengsi, ketenaran,

demi ego yang haus pujian dan tubuh baru.


Lelaki yang berkhianat,

 yang menyayat dari dalam,

Dan laki-laki yang menolak kodratnya sendiri—

lelaki bertubuh laki-laki,

tapi menolak fitrahnya sebagai pelindung perempuan.


Laki laki yang Hasratnya tertambat pada sesama laki laki,

tapi tidak jujur, tidak terang, melangkah dalam kabut.

memberikan perhatian yang menggantung,

menulis seakan peduli,

berbicara seakan menyentuh hati,

menunjukkan gestur dan kata-kata

yang memancing harapan wanita.

Tapi tak pernah mencintai,

hanya membuat wanita bingung,

menduga-duga,

dari sapanya, dari pesan yang samar—

seolah ia hadir, tapi sebenarnya mengintai.


Ia memberi harapan palsu

tanpa janji, tanpa ikatan,

agar wanita itu membuka pintu,

dan ia masuk hanya untuk mencuri:

energi lembut itu,

aura hangat itu,

rezeki yang mengalir dari jiwa yang mencinta.


Ia tidak datang untuk berbagi,

tapi untuk mengeruk.

Untuk menumpang kemurnian cinta

yang tak pernah ia hargai.


Lelaki yang menciptakan trauma dan menghancurkan jiwa demi jiwa.

Lelaki yang menyentuh untuk menyakiti hati 

memeluk dan berpura-pura mencintai untuk menghisap habis.


Laki-laki—yang hidup tanpa rasa bersalah,

menertawakan air mata,

mengangkat dirinya di atas luka wanita

yang ia tinggalkan begitu saja,

lalu memanggilnya "takdir".


Lelaki biang kerok dari hancurnya peradaban dunia.

Hancurnya hati ,

dari luluhnya impian sederhana:

dicintai dengan jujur.

Dari luka yang tertanam pada jiwa jiwa

dunia ikut retak,

dari cinta yang dihancurkan 

bumi pun kehilangan arah.


Dan ketika harapan mati,

perang pun lahir—

bukan dari senjata,

tapi dari jiwa-jiwa yang terluka .

oleh permainan lelaki yang tak jujur pada dirinya sendiri,

dan merusak dunia dengan kelembutan palsunya.


kini kita hidup

di dunia yang kehilangan senyum,

di planet yang lupa bagaimana caranya menangis.

Karena air mata telah menguap bersama empati,

dan hati manusia membatu

seperti tanah yang tak akan pernah lagi tumbuh daun.


Cinta telah jadi reruntuhan,

dan yang tersisa hanyalah musim

yang terus membeku di dalam dada manusia.


Musim dingin nuklir —

bukan lagi sekadar metafora,

tapi nyata di setiap napas terakhir bumi.

Matahari tertutup jelaga abadi,

tanaman tak lagi tumbuh,

hewan-hewan pun kehilangan arah,

dan air menjadi pahit dalam sisa-sisa sungai yang menghitam.


Udara penuh partikel kematian,

makanan tak tumbuh,

langit terus kelabu tanpa janji terang.

Yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh yang kelaparan,

jiwa-jiwa yang kehilangan,

dan manusia-manusia yang saling membenci dalam diam.


Karena pada akhirnya,

Sesungguhnya bumi tidak dihancurkan oleh bom—

melainkan oleh hati manusia

yang menolak mencintai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi yang Hidup dan Teriakan Kesakitannya: Sebuah Panggilan untuk Kesadaran

Titik Wening: A Foundational Javanese Spiritual Tool for Harmony, Self-Development, and Life Transformation

Identitas, Peringatan Alam, dan Krisis Peran Laki-laki: Sebuah Renungan Jawa