Onard's Heartfelt Regret: A Lesson Too Late

 


Sooner or later… separation is inevitable.

It’s just a matter of who will leave first.

Maybe me.

Maybe you.

Maybe both of us together.

I never thought our separation would come this soon.

I never imagined I would regret the time I let slip away.

I remember the early days of our marriage—how happy we were. Every time I came home from work, your warm smile would greet me at the door. You would prepare dinner with love, tell me about your day, and ask how mine went.

But over time, something changed. I changed.

At first, it was just a quick glance at my phone—checking notifications, scrolling through social media, watching videos without realizing how much time was passing.

"Just a minute, love," I would say every time you tried to talk to me. "I just need to check something real quick."

Just a minute... that turned into forever.

I didn’t realize that, little by little, I was drifting away from you—even though we were in the same house. I spent more time staring at a screen than looking into your loving eyes. I laughed at videos online while you sat in silence. I answered messages from people far away while the person closest to me—you—waited for a conversation that never came.

I thought you would always be there. I thought we had more time.

Until one day… we didn’t.

I still remember that night. I was glued to my phone when you coughed softly beside me. I glanced at you briefly, thinking it was nothing. "Drink some water, love," I said absentmindedly—without looking, without caring.

I didn’t even realize when you collapsed onto the floor.

I was too late to notice you were sick. Too late to see that you needed me. Too late to understand that I had wasted the precious time we had together.

Now, I sit beside your grave, holding the phone I once chose over you. But this time, my phone means nothing. There are no more messages asking if I’ve eaten. No one is waiting for me at home. No gentle hands to hold mine when I feel tired.

I regret everything.

If only I could turn back time, I would choose to look into your eyes more often, listen to your voice more intently, and hold you closer. I would put my phone down and cherish every moment with you.

But I was too late.

So often, regret only comes when everything is already over.

Before regret finds you, while there’s still time… now is the moment to make things right.

To love the people in your life more deeply.

To cherish them.

To prioritize them.

Because it’s no coincidence that you and I were brought together.

And it’s no coincidence that, when the time comes, we must be separated.

Technology can bring distant hearts closer.

But it can also create distance between those who are already close.

Use it wisely.

----------

Curahan Hati Onard: Sebuah Penyesalan yang Terlambat

Cepat atau lambat… perpisahan itu pasti terjadi.

Entah siapa yang akan lebih dulu pergi.

Entah aku.

Entah kamu.

Entah kita berdua.

Aku tak pernah menyangka perpisahan itu akan datang secepat ini.

Aku juga tak pernah berpikir bahwa aku akan begitu menyesali waktu-waktu yang telah kulewatkan begitu saja.

Aku ingat saat pertama kali kita menikah, betapa bahagianya kita. Setiap pulang kerja, aku selalu mendapati senyum hangatmu menyambutku di rumah. Kau selalu menyiapkan makan malam dengan penuh cinta, bercerita tentang harimu, menanyakan bagaimana hariku berjalan.

Tapi perlahan, sesuatu berubah. Aku berubah.

Awalnya hanya sekadar mengecek ponsel. Melihat notifikasi pekerjaan, bermain media sosial, menonton video tanpa sadar waktu berlalu. “Sebentar, Sayang,” kataku setiap kali kau mencoba mengajakku bicara. “Aku cuma mau lihat ini sebentar.”

Sebentar… yang akhirnya menjadi selamanya.

Aku tak sadar bahwa perlahan, aku mulai menjauh darimu meski kita berada di rumah yang sama. Aku lebih sering tenggelam dalam layar ponsel daripada menatap matamu yang penuh cinta. Aku lebih sering tertawa melihat video di internet daripada mendengarkan ceritamu. Aku lebih sibuk membalas pesan dari orang-orang yang jauh, sementara orang terdekatku—kamu—menunggu dengan harapan yang semakin lama semakin pudar.

Aku mengira kau akan selalu ada. Aku mengira kita akan selalu punya waktu.

Sampai akhirnya… waktu kita habis.

Aku masih ingat malam itu. Aku sedang sibuk dengan ponselku ketika kau batuk-batuk kecil di sampingku. Aku hanya melirik sekilas, berpikir itu hal biasa. “Minum air, Sayang,” ucapku singkat, tanpa menoleh, tanpa peduli.

Aku bahkan tak sadar saat kau jatuh pingsan di lantai.

Aku terlambat menyadari bahwa kau sakit. Aku terlambat menyadari bahwa kau butuh perhatianku. Aku terlambat menyadari bahwa aku telah menyia-nyiakan waktu kita yang berharga.

Kini, aku duduk di samping pusaramu, membawa ponsel yang dulu selalu kupilih di atas dirimu. Tapi kali ini, ponsel ini tak lagi berarti. Tak ada lagi yang mengirim pesan untuk menanyakan apakah aku sudah makan. Tak ada lagi yang menungguku pulang di rumah. Tak ada lagi tangan lembut yang menggenggam tanganku saat aku merasa lelah.

Aku menyesal.

Andai waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih menatap matamu lebih lama, mendengar suaramu lebih sering, memelukmu lebih erat. Aku akan memilih meletakkan ponselku dan menikmati kebersamaan kita sepenuh hati.

Tapi aku terlambat.

Kadang dan seringkali terjadi, penyesalan hadir saat semuanya sudah berakhir.

Sebelum ada penyesalan, saat masih mungkin ada waktu… ini saatnya memperbaiki segalanya.

Lebih mencintai orang-orang yang hadir dalam kehidupan.

Lebih menghargai.

Lebih mementingkan.

Karena bukan sebuah kebetulan aku dan kamu dipertemukan.

Dan bukan suatu kebetulan juga, jika saatnya sudah tiba aku dan kamu dipisahkan.

Gadget bisa mendekatkan yang jauh.

Namun bisa juga menjauhkan yang dekat.

Gunakan dengan bijak.

-----

Daftar isi 

https://cinta222dan666hidup999.blogspot.com/2024/12/daftar-isi-1-20.html

-----

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi yang Hidup dan Teriakan Kesakitannya: Sebuah Panggilan untuk Kesadaran

Titik Wening: A Foundational Javanese Spiritual Tool for Harmony, Self-Development, and Life Transformation

Identitas, Peringatan Alam, dan Krisis Peran Laki-laki: Sebuah Renungan Jawa